Showing posts with label The Architecture. Show all posts
Showing posts with label The Architecture. Show all posts

Friday, 17 May 2013

think out of the box


Think Out of The Box(Berfikir keluar dari kotak), adalah kegiatan berpikir secara berbeda, tidak biasa, atau dari perspektif baru. Frasa ini sering merujuk pada pemikiran baru atau kreatif. (wikipedia)
Hal ini pula yang coba ditularkan oleh Komunitas Energi Positif Pekanbaru (KepoPKU) dalam kegiatan sharing informalnya Minggu (21/10/12) di hotel D’lira Pekanbaru. Kegiatan tersebut menghadirkan dua pemateri yaitu Dedi Ariandi, founder Oranye Design Pekanbaru dan Nadya Saib, Co-founder Wangsa Jelita dari Bandung.
Kembali ke Masa Depan
Pada sesi pertama, Dedi Ariandi menceritakan bagaimana Ia merintis usaha jasa arsitekturnya mulai dari tahun 2001 hingga sekarang. Alumni Arsitektur Universitas Parahiangan ini memaparkan konsep Think Out of The Box yang merupakan hal-hal yang telah dilakukannya hingga kini yang menjadikan usahanya terus berkembang dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Konsep pertamanya adalah To Survive (Bertahan). Dalam konsep bertahan ini beberapa hal yang perlu dilakukan adalah dengan cara menguasai ilmu yang utama (yang kita ingin kuasai) namun tak lupa juga untuk mengetahui atau mempelajari ilmu lainnya. Berusaha tetap produktif dalam berkarya, berusaha dengan usaha-usaha yang halal, berani mengambil resiko namun dengan perencanaan yang matang serta berfikir kreatif. Yang paling penting dari beberapa hal dalam konsep bertahan ini adalah percaya kepada Allah.
Konsep yang kedua adalah To be Known (Dikenali). Maksudnya dikenali disini adalah bagaimana kita menetap suatu cita-cita atau keinginan bahwa kita harus dikenali orang dengan cara yang kita inginkan, bukan dikenali orang karena ketidak sengajaan dan semacamnya. Beberapa hal yang diterapkan Dedi dalam konsep ini adalah dengan menunjukkan etos kerja yang baik, menjaga kualitas karya kita, mempertahankan komitmen serta perluas pergaulan dengan tujuan untuk menambah pengetahuan atau membuka wawasan kita.
Konsep ketiga adalah To gain Respect (Dihargai). Maksud dari konsep ini sebagaimana yang dipaparkan oleh Dedi adalah bagaimana kita menentukan satu standar posisi kita dimata masyarakat atau klien. Tujuannya agar kita tidak dianggap remeh oleh masyarakat namun dengan tetap tidak menyombongkan diri. Beberapa hal yang bisa diterapkan dalam konsep ini adalah mencoba menjadi penyelesai masalah, jujur terutama pada diri sendiri, hormati diri sendiri dan orang lain.
Konsep keempat yang dipaparkan Dedi adalah Back to The Future (Kembali ke Masa Depan). Maksud dari konsep ini adalah bagaimana kehidupan ini kita jadikan seperti sebuah lingkaran dimana ketika kita berjalan dari satu titik menyusuri lingkaran tersebut (yang diasosiasikan menuju ke masa depan), suatu ketika kita akan sampai ke masa dimana kita berada di titik awal tempat kita memulai tadi. Konsep ini difahami oleh Dedi dengan selalu mengulang-ulang konsep pertama hingga ketiga di atas secara terus menerus tanpa henti.
Dari Profit Oriented ke Social Enterprise
Sesi kedua menampilkan Nadya Saib, Co-founder Wangsa Jelita, sebuah perusahaan yang berusaha memproduksi kosmetik dengan bahan-bahan murni/alami. Dalam pemaparannya Nadya menceritakan bagaimana Ia dalam mengembangkan usahanya bersama beberapa orang teman, sekaligus juga memberi peran sosial di masyarakat.
Nadya yang lulusan farmasi ini menceritakan suatu kejadian yang menyebabkan perusahaan sabun kecantikan Wangsa Jelita tersebut berubah konsep dari perusahaan yang murni mengejar keuntungan menjadi perusahaan dengan konsep tumbuh berkembang bersama masyarakat.
Pada waktu itu, akhir tahun 2009, Nadya bersama teman-temannya secara tidak sengaja berkenalan dengan komunitas petani mawar di Lembang, Jawa Barat. Dari perkenalan tersebut, Nadya melihat betapa mirisnya kehidupan petani mawar ini. Sebagian besar mereka hanya tamatan Sekolah Dasar.
Keterbatasan pengetahuan dan wawasan para petani ini, ditambah akses mereka yang terbatas terhadap dunia luar menyebabkan bunga mawar hasil pertanian mereka tidak memberikan pendapatan yang layak untuk kehidupan mereka.
Kepedulian Nadya dan bidang usahanya yang bisa disinergikan dengan petani mawar ini akhirnya membuat Wangsa Jelita menghasilkan produk sabun kecantikan dengan bahan dasar bunga mawar.
Keputusan tersebut tidak sia-sia, sabun kecantikan mawarnya cukup laris di pasaran. Sementara dari sisi petani, mereka mendapatkan pendapatan lebih karena harga bunga-bunga mawar mereka dihargai lebih mahal.
Demikianlah cara berfikir kreatif atau Think Out of The Box yang diterapkan oleh Nadya dalam merintis usahanya yang selain memberikan keuntungan secara finansial terhadap perusahaan, namun juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat lain.
Acara sharing yang digagas oleh Komunitas Energi Positif (KepoPKU) ini merupakan acara rutin yang digelar secara gratis, dengan tujuan menyebarkan energi positif kepada orang lain agar mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Dalam acara yang dihadiri sekitar 20 peserta ini juga ditampilkan kesenian dari Komunitas Budaya Siku Keluang dan Stand Up Commedy dari para komika Komunitas Stand Up Indo Pekanbaru.
Reade more >>

Sekilas Tentang Arsitek

PENGERTIAN ARSITEKTUR DAN ARSITEK
Arsitektur adalah ilmu dan seni perencanaan dan perancangan lingkungan binaan (artefak), mulai dari lingkup makro—seperti perencaan dan perancangan kota, kawasan, lingkungan, dan lansekap—hingga lingkup mikro—seperti perencanaan dan perancangan bangunan, interior, perabot, dan produk. Dalam arti yang sempit, arsitektur sering kali diartikan sebagai ilmu dan seni perencanaan dan perancangan bangunan. Dalam pengertian lain, istilah “arsitektur” sering juga dipergunakan untuk menggantikan istilah “hasil-hasil proses perancangan”.
Jika ilmu dan seni perencanaan dan perancangan lingkungan binaan (artefak) dinamai “arsitektur”, orang yang mempunyai keahlian dan berkecimpung di dalam bidang tersebut dinamai “arsitek”. Jadi, arsitek adalah orang yang mempunyai keahlian dan berkecimpung di dalam ilmu dan seni perencanaan dan perancangan lingkungan binaan (artefak)—seperti perencanaan dan perancangan kota, kawasan, lingkungan, lansekap, bangunan, interior, perabot, dan produk.
SEKILAS SEJARAH ISTILAH DAN PENDIDIKAN ARSITEKTUR
Istilah “arsitektur” mulai diperkenalkan pada sekitar abad I sebelum masehi. Marcus Vitruvius Pollio (88 SM – 26 SM), yang kemudian dijuluki sebagai “Bapak Arsitektur”, memperkenalkan istilah “arsitektur” melalui bukunya yang berjudul De Architectura. Namun, pada dasarnya, sejak generasi pertamanya manusia sudah berarsitektur, dalam batas pengertian bahwa arsitektur berkaitan dengan perencanaan dan perancangan lingkungan binaan. Jejak-jejak peninggalan arsitektur dari masa lampau, yang dapat dilacak pada saat ini, menunjukkan bahwa umat manusia telah berarsitektur (menghasilkan lingkungan binaan) sejak ribuan tahun sebelum masa kehidupan Vitruvius, ditandai dengan banyaknya artefak yang berasal dari masa-masa sebelum kehidupan Vitruvius—antara lain berupa hasil-hasil karya arsitektur suku Maya, Toltec, Aztec, Inca, Cina, Jepang, India, Mesopotamia, dan Mesir.
Sebagai suatu bidang karya, sampai dengan abad 19, arsitektur masih belum dipisahkan secara tegas dari berbagai bidang lainnya. Tokoh-tokoh perencana dan perancang lingkungan binaan—seperti Michelangelo—dapat berperan sebagai arsitek, pelukis, pemahat/pematung, konstruktor. Pada perkembangan kemudian, bidang engineering dan arsitektur mulai dipisahkan dari bidang lainnya. Pada 1880-an terjadi pemisahan keahlian bidang arsitektur—dengan lingkup penekanan pada aspek bentuk, ruang, dan fungsi—dengan keahlian bidang engineering—dengan lingkup penekanan pada aspek struktur dan konstruksi dalam perhitungan dan pelaksanaan pembangunan. Di Indonesia, pendidikan keahlian arsitektur mulai mandiri sejak awal dekade 1950, ditandai dengan berdirinya Jurusan Arsitektur pada Institut Teknologi Bandung.
ARSITEKTUR SEBAGAI ILMU DAN SENI
Sebagai suatu seni, arsitektur tidak dapat dilepaskan dari berbagai kaidah seni. Prinsip-prinsip keindahan yang juga merupakan kaidah dasar di dalam bidang seni lainnya—seperti kesatuan, keseimbangan, keserasian, irama—juga dipergunakan sebagai kaidah dasar di dalam arsitektur. Perwujudan arsitektur merupakan hasil manifestasi nilai-nilai seni. Itu sebabnya, pada sebagian perguruan tinggi di mancanegara, arsitektur dikelompokkan ke dalam fakultas seni atau sejenisnya.
Berbeda dengan bidang seni rupa atau seni lainnya yang dikelompokkan ke dalam seni murni (pure art), arsitektur dikelompokkan pada ‘seni terpakai’ (applied art). Pengelompokan arsitektur ke dalam ‘seni terpakai’ ini tidak dimaksudkan untuk mengartikan bahwa seni lainnya bukanlah seni yang tidak terpakai atau seni yang tidak bermanfaat, namun lebih dimaksudkan pada kenyataan bahwa arsitektur sebagai bidang seni yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan wadah yang akan dipergunakan manusia di dalam melakukan kegiatannya. Berbeda dengan orientasi seni lukis—yang menghasilkan karya berwujud dua dimensi (dwimatra)—dan seni pahat atau seni patung yang menghasilkan karya berwujud massa tiga dimensi (trimatra), orientasi arsitektur adalah menghasilkan karya ruang dan massa tiga dimensi (trimatra) yang menekankan hakikat dan keberadaan serta efek ruang sebagai wadah yang akan dipergunakan manusia di dalam melakukan kegiatannya.
Sebagai suatu ilmu, arsitektur tidak dapat dilepaskan dari berbagai kaidah keilmuan maupun bidang ilmu lainnya. Karena merupakan ilmu perencanaan dan perancangan lingkungan binaan yang menjadi wadah bagi kegiatan manusia—yang lengkap dengan seluruh sifat manusiawinya—maka arsitektur tidak dapat dilepaskan dari kaidah berbagai ilmu yang menyangkut aspek kemanusiawian—seperti psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, ergonomi, dan ekonomi. Perwujudan hasil karya arsitektur merupakan penerapan kaidah berbagai ilmu yang menyangkut aspek kemanusiawian tersebut. Oleh karena itu, calon arsitek juga perlu bidang-bidang ilmu tersebut. Pada sebagian perguruan tinggi di mancanegara, arsitektur dikelompokkan ke dalam fakultas sosial atau sejenisnya.
Karena merupakan ilmu perencanaan dan perancangan lingkungan binaan yang akan dibangun dengan cara atau rekayasa ataupun teknologi tertentu dan yang harus menjamin keselamatan bagi manusia pemakainya maka arsitektur tidak dapat dilepaskan dari kaidah ilmu teknik—seperti struktur dan konstruksi, rekayasa dan teknologi pembangunan Itu sebabnya, pada sebagian perguruan tinggi, arsitektur dikelompokkan ke dalam fakultas teknik atau sejenisnya.
DUNIA KEKARYAAN ARSITEK
Bidang karya arsitektural relatif sangat luas. Arsitek dapat berperan di dalam mendukung Perencanaan Kota (Urban Planning), dapat berperan di dalam mendukung Perancangan Kota (Urban Design), dapat berperan di dalam Perencanaan dan Perancangan Lingkungan/Kawasan, dapat berperan di dalam Perencanaan dan Perancangan Bangunan, Perancangan Interior (Ruang Dalam) Bangunan, Perancangan Taman, Perancangan Meubel, dapat berperan sebagai Pelaksana Pembangunan (Kontraktor), dapat berperan di dalam Perusahaan Perabot (Meubel), dapat berperan sebagai Surveyor dan/atau Quantity Surveyor untuk memprakirakan anggaran dan biaya pembangunan, dapat berperan sebagai Tenaga Pendidik, dapat berperan sebagai Peneliti, arsitek dapat berperan di dalam Industri Bahan Bangunan, dan dapat berperan di dalam bidang jasa konstruksi lain.

Arsitektur merupakan bidang studi yang juga dapat berperan di dalam Perencanaan dan Perancangan Kawasan
Arsitektur merupakan bidang studi Perencanaan dan Perancangan Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi Perencanaan dan Perancangan Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi Perencanaan dan Perancangan Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi Perencanaan dan Perancangan Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi Perencanaan dan Perancangan Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi yang juga dapat berperan di dalam Perancangan Interior Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi yang juga dapat berperan di dalam Perancangan Interior Bangunan

Arsitektur merupakan bidang studi yang juga dapat berperan di dalam Perancangan Interior Bangunan
Arsitektur merupakan bidang studi yang juga dapat berperan di dalam Perancangan Perabot
Maket yang berupa model rancangan arsitek, merupakan salah satu tahap di dalam proses perancangan arsitektural, sebagai suatu media komunikasi visual trimatra untuk memperlihatkan gagasan arsitek
Sketsa rancangan lansekap, merupakan salah satu tahap di dalam proses perancangan arsitektural, sebagai suatu media komunikasi visual dwimatra untuk memperlihatkan gagasan arsitek

Sketsa rancangan lansekap, merupakan salah satu tahap di dalam proses perancangan arsitektural, sebagai suatu media komunikasi visual dwimatra untuk memperlihatkan gagasan arsitek

Model trimatra hasil rancangan Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sebagai suatu media komunikasi visual trimatra untuk memperlihatkan gagasannya
Reade more >>

Thursday, 16 May 2013

13 kompetensi ARSITEK


13 Butir Kompetensi - Sertifikat Keahlian (SKA) Arsitek IAI

Penjelasan ringkas mengenai 13 butir kompetensi yang menjadi pedoman dasar penilaian Sertifikat Keahlian (SKA) Arsitek oleh Dewan Keprofesian Arsitek.
Berikut ini adalah 13 butir kompetensi yang menjadi standar pemenuhan kualifikasi sertifikasi profesional arsitek. Setiap arsitek yang mengajukan sertifikat baru wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar standar-standar ini, sebagai salah satu bukti pendalaman dan keterlibatannya dalam setiap proyek yang diajukan sebagai tolak ukur.

1. Perancangan Arsitektur

Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)

2. Pengetahuan Arsitektur

Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)

3. Pengetahuan Seni

Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)

4. Perencanaan dan Perancangan Kota

Pengetahuan yang memadai tentang perancanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)

5. Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan

Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale.)

6. Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design.)

7. Peran Arsitek di Masyarakat

Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial (Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)

8. Persiapan Pekerjaan Perancangan

Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.)

9. Pengertian Masalah Antar-Disiplin

Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design.)

10. Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate.)

11. Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan

Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan (Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations.)

12. Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.)

13. Pengetahuan Manajemen Proyek

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control.)
Reade more >>

Thursday, 25 April 2013

Gajih Arsitek ditentukan dari umur?

Gajih seorang Arsitek

Sebagaimana pada profesi lainnya,arsitek pun mempertimbangkan senioritas.Lebih sarat pengalaman, harganya jauh lebih mahal ketimbang juniornya.

Pengalaman memang mahal dan tidak dapat dinilai dengan uang.Kepakaran seseorang sangat menentukan tinggi rendahnya tarif remunerasi yang dia dapatkan. Karena itulah tarif seorang arsitek dengan pengalaman enam tahun bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan yang pengalamannya kurang dari dua tahun.

Penghasilan seorang arsitek bisa mencapai 10 kali lipat ketika dia sudah memiliki pengalaman 25 tahun hingga 34 tahun. Itulah sebabnya, sebagaimana di profesi lainnya dalam profesi arsitek pengalaman dan kepakaran mendapatkan penghargaan.

Berdasarkan standar Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) dalam pedoman hubungan kerja antara arsitek dengan pengguna jasa 2007, remunerasi tarif arsitek dibagi dalam tiga kelompok. Mulai tarif per jam,per hari,hingga per bulan.
Dalam pedoman tersebut diungkapkan, untuk arsitek dengan pengalaman kurang dari dua tahun tarif per jamnya hanya Rp35.000.Kemudian, untuk arsitek dengan pengalaman tiga sampai lima tahun,tarif per jamnya Rp47.000.

Pengalaman enam hingga delapan tahun Rp67.000 per jam,sembilan sampai 11 tahun (Rp96.000 per jam),12–14 tahun (Rp134.000 per jam), 15–19 tahun (Rp186.000 per jam), 20–24 tahun (Rp314.000 per jam), 25–34 tahun (Rp454.000 per jam), lebih dari 35 tahun (Rp525.000 per jam).

Sementara tarif per hari seorang arsitek dengan pengalaman kurang dari dua tahun sebesar Rp175.000.Dengan pengalaman tiga hingga lima tahun (Rp234.000), enam–delapan tahun (Rp333.000), 9–11 tahun (Rp476.000), 12–14 tahun (Rp670.000), 15–19 tahun (Rp927.000), 20–24 tahun (Rp1.569.000), 25–34 tahun (Rp2.268.000), serta arsitek dengan pengalaman lebih dari 35 tahun tarifnya per hari mencapai Rp2.625.000.

Selanjutnya, tarif per bulan seorang arsitek dengan pengalaman kurang dari dua tahun sebesar Rp3 juta.Arsitek dengan pengalaman tiga sampai lima tahun tarifnya mencapai Rp4 juta, enam hingga delapan tahun (Rp5.692.000),9–11 tahun (Rp8.144.000).

Untuk arsitek dengan pengalaman 12–14 tahun (Rp11.475.000), 15–19 tahun (Rp.15.888.000), 20–24 tahun (Rp26.893.000), 25–29 tahun (Rp38.873.000), serta pengalaman lebih dari 35 tahun tarif seorang arsitek mencapai Rp45 juta per bulan.

Dengan demikian, penghasilan arsitek akan meningkat seiring dengan senioritas dan pengalaman yang dia dapatkan.Seorang arsitek dengan pengalaman lebih dari 10 tahun berhak memasang tarif lebih dari tiga kali lipat dibandingkan seorang arsitek pemula yang pengalamannya kurang dari dua tahun.

Arsitek yang sudah berpengalaman hingga di atas 35 tahun bahkan layak mendapatkan penghargaan 15 kali lipat dibandingkan yang pemula. Kualifikasi ini sah saja. Sebab, profesi arsitek merupakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan ketelitian tinggi.

Bukan hanya sekedar membuat desain yang sesuai selera pemesan, tapi juga implementasi rancang bangun yang kokoh dengan perhitungan cermat. Ini karena seorang arsitek bertanggung jawab untuk tidak hanya membuat gambar-gambar rancangan bangunan, tapi juga rencana kerja dan syarat-syaratnya, rencana anggaran biaya (RAB),daftar volume, dan laporan- laporan lainnya.

Pekerjaan ini meliputi tahap konsep rancangan, pra rancangan (schematic design),pengembangan rancangan, pembuatan gambar kerja,proses pengadaan dan pelaksana konstruksi, serta tahap pengawasan berkala. Namun, kisaran atau pedoman tarif yang dikeluarkan IAI bisa berbeda di lapangan.

Sebab,penghasilan seorang arsitek akan dipengaruhi tidak hanya karena kepiawaiannya dalam membuat desain dan mengaplikasikan rancang bangunan. Namun, dari citra baik seorang arsitek amat menentukan besar kecilnya tarif.

Ini sama halnya dengan seorang dokter atau pengacara. Semakin bagus citranya, semakin besar pula tarifnya. Semakin terkenal seorang arsitek, jasanya akan semakin laris digunakan masyarakat.

Dengan demikian, penghasilan dua orang arsitek yang sama-sama memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun bisa berbeda karena faktor kepakaran,pencitraan, dan popularitasnya. Perbedaan itu juga bisa terjadi pada arsitek yang memiliki firma sendiri dan yang bekerja pada sebuah instansi.

Arsitek yang telah mendirikan firma akan mendapatkan penghasilan berdasarkan proyek yang dia dapatkan.Sementara arsitek yang bekerja pada sebuah instansi, dia minimal akan mendapatkan penghasilan bulanan tempatnya bekerja.

Tingkat kesulitan pekerjaan juga memengaruhi besar kecilnya penghasilan seorang arsitek. Semakin sulit tingkat pengerjaan rancang bangunan yang dibuatnya, maka semakin mahal harga yang harus dibayar oleh pengguna jasa arsitek.

Arsitek dari Kalayman Architect Doddy H Subagya sepakat bahwa semakin senior seorang arsitek akan semakin mahal tarifnya. Sebab, sudah selayaknya arsitek senior mendapatkan penghargaan atas kerja keras dan pengalamannya selama bekerja.

Terlebih apabila arsitek itu berhasil membangun citra baik bagi dirinya.Artinya,dia bukan hanya senior melainkan juga seorang pakar. Jika sudah demikian, sang arsitek senior layak mendapatkan imbalan yang pantas.

Besaran tarif remunerasi pekerjaan arsitek sebenarnya tidak hanya dikeluarkan IAI, tapi juga oleh Departemen Pekerjaan Umum. Sayangnya, standar ini sering tidak diberlakukan di lapangan. Sebab, standar baku yang dikeluarkan IAI ini ternyata tidak dipatuhi masyarakat maupun kalangan arsitek sendiri.

Tidak jarang terjadi perang tarif dan jor-joran harga demi meraih proyek. Bahkan sering pula ditemui seorang arsitek yang memberikan jasa rancang bangunan gratis tapi dengan catatan pengerjaan proyek bangunan tersebut dikerjakan olehnya. “Mereka inilah yang merusak iklim kompetisi sehat di kalangan arsitek.

Seharusnya persaingan itu bukan dalam hal perang tarif, melainkan kualitas pelayanan dan pengerjaan proyek,” ujarnya. Kondisi tersebut boleh jadi sangat erat kaitannya dengan status sebagian arsitek yang menjadi pegawai di sebuah instansi pemerintah atau firma swasta.

Bahkan, disebut- sebut belum ada standar yang jelas mengenai standar gaji arsitek pegawai.Malah,ada juga anggapan bahwaarsitekpegawaitaklebih sebagai tukang gambar para pemilik modal dan belum memiliki posisi tawar yang tinggi.

Meski begitu, gaji seorang arsitek pegawai atau perencana kota masih lebih tinggi dari seorang akuntan. Berdasarkan Data Sakernas, penghasilan rata-rata per bulan seseorang arsitek mencapai Rp3.321.028, dibanding akuntan yang hanya sebesar Rp2.589.353. :)
Reade more >>
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...